Saturday, 26 May 2007

Resensi Buku

catatan IRASPI:
Tentara Indonesia (30/5/2007) baru saja menembaki petani miskin di Grati Pasuruan, dengan 4 korban tewas. Tentu saja berharap tentara bisa jadi agen perubahan di Indonesia merupakan hal yang sulit (kalau tak mau dibilang tidak masuk akal). Tentara Indonesia tidak pernah diajari membaca teori-teori progresif dan nampaknya diluar nalar mereka jika mesti melayani rakyat. Akan butuh waktu puluhan tahun bagi tentara Indonesia untuk berubah dari watak sejatinya....solidaritas kami untuk petani pasuruan!
TOLAK MILITERISME!

Dibawah ini merupakan resensi buku Memahami Revolusi Venezuela, namun bukan merupakan pandangan IRASPI

SINAR HARAPAN
26 Mei 2007
Memahami Revolusi Venezuela

Tentara Bisa Jadi Agen Perubahan
Oleh Tutut Herlina

Judul : Memahami Revolusi Venezuela: Perbincangan Hugo Chavez dengan Marta Harnecker
Penerjemah : Aan Rusdianto, Astri Suryandari, Ayala Zikhra, Yusuf Supriyadi
Penerbit : Aliansi Muda Progresif dan Institute for Global Justice
Cetakan Pertama, Februari 2007-05-26
Halaman : 241 halaman

Jakarta – Berakhirnya perang dingin antara Uni Soviet (komunis) dan Amerika Serikat (liberalis) akhir dekade 80-an membuat dunia yakin bahwa kapitalisme adalah yang paling sesuai untuk membuat dunia maju. Namun, setelah satu dekade berjalan, keyakinan itu menjadi terbantahkan. Dengan menggunakan tekanan politik atau dibungkus rapi dengan demokrasi, kepentingan kapitalis global tersebut terkadang mampu membuat sebuah negara berdaulat tercerai-berai. Mereka tak segan-segan menyokong sebuah gerakan radikal hanya untuk mempertahankan kepentingan ekonomi di suatu negara. Untuk keluar dari cengkeraman kapitalis tersebut, campur tangan negara sebagai “regulator” kepentingan rakyat dan pengusaha menjadi dibutuhkan. Ini pulalah yang dilakukan oleh Venezuela di bawah pemerintah Hugo Chavez. Negara di Amerika Latin tersebut kini menjadi ikon bagi gerakan dunia ketiga untuk menuntut kesetaraan hak di antara negara-negara di dunia.

Dalam buku yang berjudul Memahami Revolusi Venezuela, perjuangan Chavez menyejahterakan rakyat digambarkan secara gamblang. Buku hasil wawancara seorang jurnalis Marta Harnecker tersebut berhasil mengulas kendala dan keberhasilan Chaves dalam merebut hati rakyat. Sayangnya, penulis buku ini terkadang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cenderung berulang-ulang. Tak jarang si penanya mengajukan pertanyaan yang panjangnya hingga satu setengah halaman. Sementara itu, jawaban Chavez juga loncat-locat, sehingga membutuhkan pemahaman mengenai pernyataannya terdahulu.

Chavez memulai perjuangan politik bawah tanahnya sejak tahun 1980-an. Dia sendiri adalah seorang anggota militer, Kolonel Parakomando (Kopassus kalau di Indonesia) yang memihak kepada rakyat kecil. Ia sekolah di Akademi Taruna Militer pada tahun 1970. Bersama dengan kelompok militernya, MBR 200 (Gerakan Bolivarian Revolusioner), yaitu gerakan sipil-militer yang terkoordinasi dengan baik, ia melakukan perubahan revolusioner di Venezuela. Jabatannya sebagai instrukur militer dipergunakannya untuk menyemai ide revolusi kepada tentara-tentara muda angkatan 1980–1983. Dalam menjalankan perebutan kekuasaan, Chaves pernah melalui kudeta yang didukung oleh kelompok militernya. Sayangnya, kudeta pada tahun 1992 tersebut gagal karena tidak didukung oleh rakyat. Kegagalan kudeta ini pula yang membuat Chaves yakin bahwa militer tidak dapat berbuat apa-apa tanpa mendapat dukungan dari rakyat. Untuk hubungan antara militer dengan rakyat itu, ia menggunakan teori Mao yang menyebutkan bahwa tentara dengan rakyat seperti ikan dengan air. Ia pun mengubah cara merebut kekuasaan dari gerakan senjata menjadi gerakan konstitusional.

Bersama kelompoknya, mereka mengikuti pemilihan umum (pemilu) yang dimenangkan secara sukses pada tahun 1998. Dalam pemilu itu, dia merebut 56 persen suara pemilih. Keunikan Chavez adalah membalikan proses berpolitik: merebut kekuasaan dulu secara konstitusional baru menjalankan revolusi.

Setelah berhasil mencapai kekuasaan, Chavez juga menggunakan banyak anggota militernya untuk melaksanakan proyek swakarya bersama-sama dengan rakyat. Di beberapa daerah, militer bahkan bersama-sama dengan rakyat membangun berbagai fasilitas yang diinginkan. Untuk menghindari penyelewengan, rakyat diberikan hak untuk melakukan pengawasan. Hasilnya, akses perekonomian di daerah langsung maju pesat. Di tingkat kebijakan nasional, dia melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan tambang, minyak, dan gas bumi. Kebijakan ini dilatarbelakangi penilaian bahwa investor asing yang bertahun-tahun mengelola minyak di negara tersebut terbukti tidak memberikan keuntungan buat rakyat. Sebaliknya, kekayaan alam Venezuela dikeruk habis-habisan dan hanya menguntungkan para pengusaha.

Meski demikian, kekuasaan Chavez bukan berarti tanpa kendala. Mental birokrasi yang bobrok telah membuat beberapa kebijakan yang memihak pada rakyat tidak dapat diimplementasikan. Ia bahkan juga dikhianati oleh teman seperjuangannya sendiri di dalam militer. Ini terbukti ketika beberapa anggota militer berusaha melakukan kudeta. Kudeta pertama dilakukan pada Juni 2001 yang dapat dicegah. Kudeta kedua dilakukan 11 April 2002. Kudeta ini dilakukan partai politik sayap kanan, asosiasi bisnis, dan beberapa perwira tinggi militer serta pimpinan serikat buruh. Dalam aksi kudeta ini, Chavez jatuh. Namun, posisinya kembali dua hari kemudian setelah rakyat melakukan perlawanan besar-besaran terhadap pihak-pihak yang melakukan kudeta. Kudeta terakhir dilakukan tahun 2005 dan juga gagal karena Chavez dan tentaranya kembali mendapat dukungan rakyat.

Kini, Chavez menjadi ikon untuk pembebasan negara-negara miskin dan berkembang dari cengkeraman kapitalisme global. Ia pun telah mematahkan mitos revolusi. Sebagaimana diketahui, revolusi dalam kamus kiri adalah revolusi rakyat, di mana inisiator dan penggeraknya adalah kelas paling revolusioner dalam sistem kapitalis, kelas buruh (Marx dan Lenin) dan kelas petani (Mao). Di luar itu adalah tabu. Dia juga bukan seorang Marxis ataupun anggota Partai Komunis. Dia adalah seorang progresif revolusioner, yang berkehendak berjuang mengubah sistem untuk membawa kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat kecil. Buku ini menarik karena memberikan pelajaran bahwa gerakan revolusi bisa dilakukan oleh kaum intelektual. Penguasa negara ini seharusnya terinspirasi dari buku tentang gebrakan Chavez untuk dengan tanpa takut mengambil kebijakan yang berpijak pada rakyat.

No comments: